Dalam tarikh Islam, dikisahkan bahwa Khadijah, sebelum menjadi istri Rasulullah SAW, mempercayakan penuh barang dagangannya kepada Rasul, bahkan saudagar cantik itu sangat tertarik dengan akhlak terpuji beliau sehingga mempersuntingnya. Al-Amin, artinya orang terpercaya, sebuah label yang melekat pada diri Rasulullah. Kisah lain, ketika baatu hitam (hajar aswad) di sekitar ka’bah Baitullah setelah lama hilang dan ditemukan kembali, setiap kabilah bersaing ingin meletakan kembali batu hitaam tersebut pada tempatnya semula, akhirnya keputusan ada di tangan manusia berbudi agung dan mulia.
Beberapa saat menjelang hijrah Nabi dari mekkah ke Madinah (Yatsrib) Ali Bin Abi Thalib, sahabat Rasul, disuruh mengembalikan barang-barang orang Quraisy yang dititipkan kepada Rasulullah. Ini berkat kejujuran dan amanah Rasulullah. Akhlaknya ini tidak saja dikagumi oleh para sahabatnya tetapi juga diaakui oleh musuh-musuhnya, bahkan Allah pun memuji perangainya. Sangatlah pantas jika Rasul diberi gelar al-Amiin (orang terpercaya).
Jujur dalam pergaulan menuai banyak manfaat, diantaranya: hidup menjadi tenang, mudah mendapat pekerjaan, memperbanyak teman, memperoleh kesuksesan, memiliki nama baik dan menjadi contoh bagi orang lain.
Secara teori ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kejujuran. Pertama faktor pribadi, yaitu proses penyadaran dari dalam terhadap peristiwa yang telah dan sedang dialamainya. Kedua, faktor orang lain yang dianggap penting dapat ikut membentuk serta memengaruhi sikap seseorang. Ketiga faktor media masa, seperti televisi, koran, majalah, dan internet berpengaruh sangat besar terhadap pembentukan sikap. Keempat faktor emosional, karena sikap seseorang terkadang merupakan pernyataan berdasarkan kondisi emosial.
Bagaimana menerapkan nilai kejujuran dalam pembelajan di sekolah? Sekolah sebagai pranata sosial dan pendidikan kedua setelah keluarga memiliki tanggungjawab membentuk karakter peserta didik. Pembentukan karakter di sekolah diwujudkan dalam penerapan kurikulum yang holistik mencakup nilai-nilai spiritual, sosial pengetahuan dan keterampilan. Pembentukan karakter disekolah dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung dilakukan oleh pendidik dan terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran. Semua pendidik dan tenaga kependidikan, tanpa terkecuali, bertanggung jawab dalam menumbuh kembangkan nilai-nilai kejujuran di sekolah.
Misalnya, peserta didik belajar jujur ketika melaksanakan ulangan atau ujian dengan tidak menyontek dari buku, contekan atau dari teman-temannya. Jika perlu tulis slogan integritas dalam kertas jawaban, misalnya “Saya mengerjakan ujian dengan jujur”, “Menyontek adalah dosa”, “Allah bersama orang-orang yang jujur” dan sebagainya.
Latihan jujur ketika di kantin sekolah, misalnya setiap barang jualan yang ada diberi label harga, peserta didik bisa bertransaksi tanpa ada si penjualnya dengan melihat harga yang tertera dan menyimpan uangnya pada tepat yang telah ditentukan. Di kantin juga terdapat slogan misalnya ”Indahnya hidup jujur,” “ Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar, Allah maha Tahu,” “Hidup Jujur Pasti Mujur”, “Kawasan ini dalam pengawasan malaikat” dan sebagainya.
Buatlah fakta integritas di kelas dipimpin oleh wali kelasnya pada awal tahun pelajaran dan menempelkannya pada dinding kelas agar terbaca oleh seluruh peserta didik. Siswa diajari mengelola keuangan kelas merupakan salah satu cara melatih kejujuran. Biasanya di kelas kerap terjadi kehilangan buku, uang dan barang-barang lainnya.
Menanamkan kejujuran di sekolah utamanya dilakukan melalui pembiasaan dan keteladanan. Pembiasaan yang baik akan menjadi budaya dan tata nilai yang baik pula. Demikian pula keteladanan yang baik dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, satpam, tenaga kebersihan, peserta didik senior, dapat menumbuhkan karakter peserta didik. Kedua aspek ini sipatnya mengikat bagi segenap warga sekolah. Jika tidak, maka akan terjadi ketimpangan dalam proses dan hasil pendidikan.
Menanamkan kejujuran itu dapat dilakukan dari hal yang kecil, secara konsisten dan tanggung jawab semua orang. Pendidikaan nilai tidak hanya diajarkan secara teoritis tetapi dilatih, dibiasakan, dimasyarakatkan sehingga menjadi akhlak. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, mengucapkan salam, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, bersikap adil,peduli, emapti, menepati janji, berbicara lemah lembut dan sopan adalah nialia-nilai positif yang harus dibudayakan di sekolah.
Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru dalam menanamkan kejujuran kepada peserta didik melalui instrospeksi, budaya dan pujian. Pertama lakukan instrospeksi terlebih dulu sebelum menghakimi atau menyalaahkan peserta didik, sudah jujurkah guru dalam mendidik, sudah ikhkas sepenuh hati tanpa ada diskriminasi? materi yang disampaikan sudah sesuai dengan metode yang tepat? Kedua, ciptakan budaya berani jujur dalam setiap keadaan dimanapun dan kapanpun. Ketiga, berikan pujian pujian kepada peserta didik bukan hanya pada hasil tetapi juga pada usahanya dengan jujur. Berikan teguran dengan santun jika ada yang nyontek atau curang, tuliskan pesan edukatif di kertas ulangannya.
Strategi yang pernah penulis lakukan ketika memberikan ulangan kepada peserta didik. Yaitu sebelum dimulai atur tempat duduk untuk menghindari kerjasama dalam menjawab soal; berikan soal uraian yang menuntut peserta didik berpikir analisis, evaluasi dan kreasi; awasi mereka dengan ketat jika soalnya mudah atau bentuk pilihan ganda; buat variasi soal yang berbeda dengan bobot yang sama; dampingi dan catat bila ada hal-hal yang penting; dan berikan teguran jika ada siswa yang menyontek.
Menutup tulisan ini, untuk membangun negara yang kuat, berkemanusiaan, adil dan beradab tidak hanya dibutuhkan orang–orang yang berilmu tinggi dan terampil tetapi juga orang–orang yang jujur. Kejujuran diperoleh dari konsistensi pembiasaan, pembudayaan dan keteladanan dalam kegiatan pembelajaran yang menjungjung tinggi nilai-nilai kebijaksanaan.. Wassalam. Wallohu’alam
*Guru IPS MTsN 2 Tasikmalaya, Tinggal di Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. No.HP/WA: 082321085551. Email: aisofah@gmail.com
Beberapa saat menjelang hijrah Nabi dari mekkah ke Madinah (Yatsrib) Ali Bin Abi Thalib, sahabat Rasul, disuruh mengembalikan barang-barang orang Quraisy yang dititipkan kepada Rasulullah. Ini berkat kejujuran dan amanah Rasulullah. Akhlaknya ini tidak saja dikagumi oleh para sahabatnya tetapi juga diaakui oleh musuh-musuhnya, bahkan Allah pun memuji perangainya. Sangatlah pantas jika Rasul diberi gelar al-Amiin (orang terpercaya).
Jujur dalam pergaulan menuai banyak manfaat, diantaranya: hidup menjadi tenang, mudah mendapat pekerjaan, memperbanyak teman, memperoleh kesuksesan, memiliki nama baik dan menjadi contoh bagi orang lain.
Secara teori ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kejujuran. Pertama faktor pribadi, yaitu proses penyadaran dari dalam terhadap peristiwa yang telah dan sedang dialamainya. Kedua, faktor orang lain yang dianggap penting dapat ikut membentuk serta memengaruhi sikap seseorang. Ketiga faktor media masa, seperti televisi, koran, majalah, dan internet berpengaruh sangat besar terhadap pembentukan sikap. Keempat faktor emosional, karena sikap seseorang terkadang merupakan pernyataan berdasarkan kondisi emosial.
Bagaimana menerapkan nilai kejujuran dalam pembelajan di sekolah? Sekolah sebagai pranata sosial dan pendidikan kedua setelah keluarga memiliki tanggungjawab membentuk karakter peserta didik. Pembentukan karakter di sekolah diwujudkan dalam penerapan kurikulum yang holistik mencakup nilai-nilai spiritual, sosial pengetahuan dan keterampilan. Pembentukan karakter disekolah dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung dilakukan oleh pendidik dan terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran. Semua pendidik dan tenaga kependidikan, tanpa terkecuali, bertanggung jawab dalam menumbuh kembangkan nilai-nilai kejujuran di sekolah.
Misalnya, peserta didik belajar jujur ketika melaksanakan ulangan atau ujian dengan tidak menyontek dari buku, contekan atau dari teman-temannya. Jika perlu tulis slogan integritas dalam kertas jawaban, misalnya “Saya mengerjakan ujian dengan jujur”, “Menyontek adalah dosa”, “Allah bersama orang-orang yang jujur” dan sebagainya.
Latihan jujur ketika di kantin sekolah, misalnya setiap barang jualan yang ada diberi label harga, peserta didik bisa bertransaksi tanpa ada si penjualnya dengan melihat harga yang tertera dan menyimpan uangnya pada tepat yang telah ditentukan. Di kantin juga terdapat slogan misalnya ”Indahnya hidup jujur,” “ Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar, Allah maha Tahu,” “Hidup Jujur Pasti Mujur”, “Kawasan ini dalam pengawasan malaikat” dan sebagainya.
Buatlah fakta integritas di kelas dipimpin oleh wali kelasnya pada awal tahun pelajaran dan menempelkannya pada dinding kelas agar terbaca oleh seluruh peserta didik. Siswa diajari mengelola keuangan kelas merupakan salah satu cara melatih kejujuran. Biasanya di kelas kerap terjadi kehilangan buku, uang dan barang-barang lainnya.
Menanamkan kejujuran di sekolah utamanya dilakukan melalui pembiasaan dan keteladanan. Pembiasaan yang baik akan menjadi budaya dan tata nilai yang baik pula. Demikian pula keteladanan yang baik dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, satpam, tenaga kebersihan, peserta didik senior, dapat menumbuhkan karakter peserta didik. Kedua aspek ini sipatnya mengikat bagi segenap warga sekolah. Jika tidak, maka akan terjadi ketimpangan dalam proses dan hasil pendidikan.
Menanamkan kejujuran itu dapat dilakukan dari hal yang kecil, secara konsisten dan tanggung jawab semua orang. Pendidikaan nilai tidak hanya diajarkan secara teoritis tetapi dilatih, dibiasakan, dimasyarakatkan sehingga menjadi akhlak. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, mengucapkan salam, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, bersikap adil,peduli, emapti, menepati janji, berbicara lemah lembut dan sopan adalah nialia-nilai positif yang harus dibudayakan di sekolah.
Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru dalam menanamkan kejujuran kepada peserta didik melalui instrospeksi, budaya dan pujian. Pertama lakukan instrospeksi terlebih dulu sebelum menghakimi atau menyalaahkan peserta didik, sudah jujurkah guru dalam mendidik, sudah ikhkas sepenuh hati tanpa ada diskriminasi? materi yang disampaikan sudah sesuai dengan metode yang tepat? Kedua, ciptakan budaya berani jujur dalam setiap keadaan dimanapun dan kapanpun. Ketiga, berikan pujian pujian kepada peserta didik bukan hanya pada hasil tetapi juga pada usahanya dengan jujur. Berikan teguran dengan santun jika ada yang nyontek atau curang, tuliskan pesan edukatif di kertas ulangannya.
Strategi yang pernah penulis lakukan ketika memberikan ulangan kepada peserta didik. Yaitu sebelum dimulai atur tempat duduk untuk menghindari kerjasama dalam menjawab soal; berikan soal uraian yang menuntut peserta didik berpikir analisis, evaluasi dan kreasi; awasi mereka dengan ketat jika soalnya mudah atau bentuk pilihan ganda; buat variasi soal yang berbeda dengan bobot yang sama; dampingi dan catat bila ada hal-hal yang penting; dan berikan teguran jika ada siswa yang menyontek.
Menutup tulisan ini, untuk membangun negara yang kuat, berkemanusiaan, adil dan beradab tidak hanya dibutuhkan orang–orang yang berilmu tinggi dan terampil tetapi juga orang–orang yang jujur. Kejujuran diperoleh dari konsistensi pembiasaan, pembudayaan dan keteladanan dalam kegiatan pembelajaran yang menjungjung tinggi nilai-nilai kebijaksanaan.. Wassalam. Wallohu’alam
*Guru IPS MTsN 2 Tasikmalaya, Tinggal di Ciawi Kabupaten Tasikmalaya. No.HP/WA: 082321085551. Email: aisofah@gmail.com
0 Komentar:
Post a Comment