Kedua,
mengajar IPS dapat mendatangkan kepuasan
jiwa dan kesenangan. Celotehan, tawa, keluguan anak baru gede (ABG), membuat
saya tersenyum sekaligus dapat mencairkan kebekuan dan kekakuan hubungan saya
dan murid-murid. Sapaan hangat, cium tangan dan sambutan riang di depan kelas
dengan wajah ceria kerap menghiasai hari-hariku.
Saya merasa senang jika mereka -dengan tidak
meraca canggung menyampaikan perasalahan yang mereka hadapi, dan saya
pun siap menjadi pendengar setia bagi mereka. Ketika saya berulang tahun,
murid-muridku mengucapkan selamat sejahtera dan mendoakan kebaikan dengan
memberi kado dan kue ultahnya. Kebahagiaan seorang guru, apabila di antara murid-muridnya ada berhasil
melebihi gurunya.
Ketiga,
mengajar adalah melatih kesabaran. Saya pun manusia biasa yang terkadang tidak
dapat mengendalikan perasaan dan emosi. Terkadang saya mengeluh ketika murid-murid
saya tidak mau belajar setelah
berkali-kali diperingatkan. Di samping itu, saya juga suka merasa jengkel jika mereka tidak mengerjakan
PR, membuat kegaduhan dan menggangu
teman-temanya di kelas. Masih ditemukan
mereka datang terlambat, minggat atau sering tidak masuk kelas tanpa alasan
yang jelas. Cara berpakaian dan berpenampilan mereka yang tidak selayaknya anak sekolah terkadang membuat
saya bosan menegurnya. Tetapi, saya yakin bahwa inilah ladang amal saleh dan
bentuk pengabdian diri kepada AllAh SWT. Saya menyadari bahwa menanamkan pembiasaan
yang baik itu perlu proses dan membutuhkan keikhlasan, kesungguhan dan
kesabaran.
Keempat, mengajar bagi saya adalah suatu upaya untuk
membelajarkan dan berpikir kritis. Saya banggga ketika peserta didik dapat belajar dengan caranya
sendiri dari berbagai sumber tanpa harus disuruh. Mereka juga didorong untuk
dapat berpikir kritis sesuai dengan perkembangan kognitifnya. Mereka senang apabila pembelajaran selalu
dikaitkan dengan kontek kehidupan nyata.
Untuk itu, saya selalu mendorong mendorong mereka untuk belajar dengan
menggunakan berbagai sumber informasi, tidak terbatas pada buku paket yang
biasa digunakan di kelas. Demikian pula, supaya mereka terbiasa berpikir
kritis, saya memberi pertanyaan dan soal-soal yang menantang pada lembar kerja.
Di samping itu mereka didorong untuk berpikir mendalam tentang topik
tertentu; Mereka selalu didorong untuk
berpikir kritis dan mampu menemukan jawaban berdasarkan pengalaman dan hasil
refleksinya.
Kelima,
mengajar IPS bagi saya, memengaruhi dan menginspirasi. Sejatinya, kata-kata,
sikap, tindakan dan penampilan guru menjadi model bagi murid-muridnya. Semua
yang nampak pada diri guru merupakan pendidikan yang tidak direncanakan secara
langsung bagi murid, atau dalam istilah pendidikan disebut kurikulum
tersembunyi (hidden curriculum). Untuk itu, saya selalu menjaga diri dengan
cara menjaga kata, sikap dan penampilan saya di kelas dan di luar kelas. Semua
demi kelangsungan pendidikan murid-murid saya.
Secara
kebetulan, di dalam angkutan kota ketika
saya pergi berbelanja, saya bertemu dengan seorang mahasiswi tingkat akhir pada
sebuah perguruan tinggi terkemuka di Bandung. Dia mengaku alumni sekolah tempat
saya mengajar 10 tahun lalu. Lama tidak
bertemu, saya pun lupa namanya, tapi wajahnya masih familiar. Sedikit
bernostalgia, katanya dulu dia pernah ngefan
atau mengidolakan saya sebagai guru favoritnya. Selanjutnya, dia mengatakan
bahwa dirinya terinspirasi dengan gaya mengajar saya yang menggairahkan dan
menyenangkan. Bahkan, dia dulu
bercita-cita ingin menjadi guru seperti
saya. Alhamdulillah, dia sekarang sudah
mengajar di sekolah di daerah kelahirannya, mengajar IPS juga.
Alhasil,
saya bersyukur kepada Tuhan Yang maha Kuasa dan bangga menjadi guru sebagai
sebuah karunia yang tak terhingga. Sebagai profesi yang mulia, guru bukan hanya
bertanggungjawab mengajar, membimbing dan mendidik tetapi
lebih jauh, guru menyiapkan generasi masa depan bangsa yang bermutu. Oleh
karena itu, tidak ada alasan menjadi guru IPS harus rendah diri. Wallahu’alam
0 Komentar:
Post a Comment