LARA HATI

Lara Hati
Karya: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.*

Mencoba menjawab rasa
Menelusuri kepenasaran yang lama tak terjawab,
Menyusuri jalan berliku nan berpasir,
Mencari ruang tuk menyimpan tanya.

Jalan terjal tlah terlalui,
Mengguncang hati yang seolah tak mengerti,
Gemetar badan mengiringi pacu kemudi,
Yang terus dipaksa untuk jalani hari.

Sepanjang jalan alam berseri,
Menyambut mata yang terbelalak menyaksikan eloknya mentari,
Sang petani asyik meracik bumi,
Menghamparkan tanah bak karya seni.

Ingin rasanya terjal ini berlalu,
Berganti halus nan menyentuh kalbu,
Tuk menghantar asa yang lama berlalu,
Berganti indah bak nyanyian syahdu

ANN
28012019
11.38



*Guru Matematika di MTs Cijangkar Ciawi, blog pribadi bisa dikunjungi http://www.agusnananuryana2.blogspot.com dan Pembina ekskul Jurnalistik MTs Cijangkar, blog bisa dikunjungi http://www.jurnalistikmtscijangkar.blogspot.com

*Penulis juga aktif sebagai pegiat Literasi Madrasah dan saat ini mengelola sebuah komunitas yang bernama KALIMAH (Komunitas Aktivis Literasi Madrasah). Website KALIMAH bisa dikunjungi melalui http://www.gokalimah.com


Selain itu penulis juga tercatat sebagai anggota PERGUMAPI (Perkumpulan Guru Madrasah Penulis). Website PERGUMAPI bisa dikunjungi melalui http://www.pergumapi.or.id

Penulis juga aktif di komunitas Gumeulis (Guru Menulis) Tasikmalaya

HORMATI IBU

Ibu merupakan sosok yang paling berharga dalam hidup kita. Adanya kita di dunia ini melalui jerih payahnya. Ia rela mengorbankan segalanya demi anak-anaknya tanpa pamrih

HORMATI IBU
Oleh :Hendar, S.Pd., M.Si.*

Sungguh sangat berharga dan berjasa
Seorang ibu lahir ke alam pana
Mengandung, melahirkan, merawat, dan mengasuh kita
Pagi, siang, dan malam
Tak mengenal rasa lelah
Walau penuh dengan derita dan air mata
Demi anak kebanggaannya

Kesabaran dan ketabahan
Istimewa dan luar biasa
Dari seorangibu
Rela bangun tengah malam
Diiringi tangisan anak yang mendambakan kasih sayang
Demi kesehatan dan ketenangan anaknya

Pengorbanan dan perjuangan seorang ibu
Dengan ketulusan dan keikhlasan
Titian langkah yang penuh kepastian
Menggapai harapan
RidlohaqiqidariIlahi
Tertanam selamanya dalam hati

Ketika anak melupakan akan kebaikan seorang ibu
Dia tak pernah mengusik
Akan pengorbanan yang telah dilakukan
Bahkan dia senantiasa berharap
Keberhasilan dan kesuksesan
Dalam menggapai kehidupan
Kepada anak-anaknya

Hormati jasa ibu
Hargai jasa ibu
Walau kita tak akan bias membalasnya
Memohon maaf atas kekhilapan dan kealpaan
Berada dalam pangkuan maafnya
Setiap saat mendoakan
Kebahagiaan dan keselamatan
Dalam mengisi
Kehidupan di dunia dan akhirat





“SELAMAT HARI IBU’
22 DESEMBER 2018


SEMOGA IBU KITA SELAMANYA BERADA DALAM MAGFIRAH DAN RIDLO-NYA.

*Guru MTsN 3 Tasikmalaya

PESONA WIJAYA

PESONA WIJAYA
Karya: Euis Nuryanti

*Staf Pengajar
di MA Namiroh Tasikmalaya

Karenamu
Kuarungi waktu
Berselimut rindu
Tersemat dikalbu

Menunggumu
Selaksa racun berselimut madu
Tersekat lugu
Berharap semu

Mekarmu
Mengobati luka
Meretas duka
Menyejukkan mata

BUAH PERSAHABATAN

Buah Persahabatan
Karya: Agus Nana Nuryana*

Persimpangan itu menjadi saksi
Kuatnya simpul yang melilit hati
Meneguhkan nilai yang sejati
Kala cinta tlah terpatri.

Ini bukan masalah waktu kapan kau datang
Bukan pula sekedar apa yang kau bawa
Tak peduli waktu yang sudah menutup diri
Mengganti fajar dengan matahari
Namun aku tak peduli...

Karena kita bersahabat

Semangat yang begitu menggelora
Tak tertahan membongkar asa
Meski harus berkorban rasa
Demi merajut indahnya cinta

Jauhnya jarak bukan kendala
Dinginnya malam tak lagi terasa
Bayangan indah kian kentara
Tuk menambatkan rindu di dada

Sungguh indah tatkala kita bersua
Curahan rasa begitu bermakna
Melepas segala gundah gulana
Meski waktu yang tak seberapa

Tak mudah menghilangkan jejak
Meski dulu kita bukan siapa-siapa
Aku di sini kau di sana
Namun kini kita bersama

Sungguh indah cipta sang kuasa
Menyatukan raga menjadi seirama
Walau kita tak seibu sebapa
Indahnya rasa mengikat kita

*Guru Matematika
MTs Cijangkar

Muhammad

Muhammad 
Karya: Dewi Aryanti, M.Pd*

12 Robi’ul awal di tahun gajah
Menjadi saksi sejarah
lahirnya manusia tergagah
Dengan akhlak mulia terindah
Pendombrak zaman yang parah

Rasulku yang rupawan
Dengan berjuta kehebatan
Berbudi pada lawan apalagi kawan
Sandaran  semua insan
Di hari kemudian

Berdegup rindu di dada
Senandungkan sholawat cinta
Padamu duhai kekasih
Yang tak pernah pilih kasih
(Allohumma sholli a’la Muhammad ya Rabbii sholi a’laihi wa sallim)

*Guru di MTsN 10 Tasikmalaya

GURUKU TELADANKU

GURUKU TELADANKU
Oleh : Hendar, S.Pd., M.Si*


Setiap hari Engkau membimbing
Setiap hari Engkau melangkah dengan pasti
Setiap hari Engkau menerangi
Demi mengabdi dan berbakti
Mengharap ridlo Ilahi Robbi
Duniawi dan ukhrowi

Guruku yang mulia
Kau pahlawanku tak mengharap balasan
Di saat aku tak patuh padamu
Kau tak pernah marah dan menyerah
Dalam mendidik, mengarahkan, dan memberikan pengetahuan
Kau selalu menyinari jalan hidupku dengan penuh asa
Sosokmu teladan bagiku

Dikala muridmu gagal menempuh cita-cita
Kau senantiasa memberi motivasi dan inspirasi
Dikala muridmu sukses meraih cita-cita
Kau merasa bangga dan bahagia
Walau mereka tak menyapa
Kau tetap sapa mereka
Dengan hati yang tulus nan ikhlas

Kau suluh ilmu dalam kehidupan
Menata setiap saat
Berkarya bukan untuk dipuja
Mulia karena berbuat
Harapan dinanti bermanfaat

Guruku yang mulia
Maafkan aku yang tak bisa membalas
Atas kebaikan dan jasa-jasa yang telah kau tumpahkan
Hanya doa yang bisa kupanjatkan
Semoga meraih Balasan yang berlipat ganda
Dari yang Maha Kuasa

“SELAMAT HARI GURU NASIONAL 25 NOVEMBER 2018”

GURU BUKAN ORANG YANG HEBAT TETAPI BANYAK ORANG YANG HEBAT BERKAT JASA GURU

*Guru Bahasa Indonesia
MTsN 3 Tasikmalaya

Aku Bahagia

Aku Bahagia
Karya: Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.

Aku bahagia
Ketika kau tumbuh dewasa
Tak terasa waktu mengganti masa
Hingga saat ini tlah tiba

Aku bahagia
Hari ini ku menyaksikan pertanda
Bukti perjuangan yang tak sia-sia
Walau kini engkau jauh di mata.

Aku bahagia
Melihat engkau kini berjaya
Meski melalui dunia tak nyata
Namun terasa indah di alam nyata

Aku bahagia
Tak sedikitpun aku mengharap asa
Atas apa yang kini kau rasa
Walau aku tlah memberi jasa

Aku bahagia
Karena harapanku kini menjadi nyata
Keluh kesah yang dulu selalu membara
Kini hilang berganti bangga

Aku bahagia
Tuhan kini tlah memberiku rasa
Rasa yang membuatku terpana
Menyaksikan anugrah yang tercipta.











ANN
15102018
17.00

Harta yang Menipu

“Harta yang Menipu”

Kau begitu menggoda
Kemilaumu membuat mataku buta
Tarikanmu membuatku lupa
Lupa pada yang maha kuasa

Setiap hari orang berlomba mendapatkanmu
Sikut sini sikut sana tak jemu-jemu
Tak peduli walau raga dihimpit waktu
Hingga yang lain dianggap tak perlu

Demi engkau aku gadaikan anak-anak
Orangtuanya ku carikan pembantu
Ku tak peduli walau mereka sayang atau tidak
Yang ku inginkan engkau ada dipangkuanku

Mengejarmu kukerahkan seluruh daya
Alasanku membahagiakan keluarga
Jerit tangis anak ku anggap tak ada
Padahal yang ku kejar adalah fana



Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.
Staf Pengajar MTs Cijangkar

Wanci Sareupna

Wanci Sareupna

Layung beureum luhur gunung
Sarangenge amitan mungkur
Nyumput tukangen halimun
Tunduk dina galur  waktu

Ti subuh nepi ka surup
Eureun rame  ngadago simpe
Tongeret  ngajenger  ngadadak rehe
Manuk piit balik nyayang
Manuk tuew mimiti datang

Dangdaunan ngagupayan
Buruan lenglang kari ledugna
Tapak barudak  arulin jeung baturna
Balik ka imah bari lugina
Mawa carita ka indung bapana
kumpul ngariung ngalingkung sarung

Tutup panto tutup jandela
Sabab peuting  rek tumiba
Nyawang beurang  makalangan
Lalangse  tinggal  sawangan
Miang hamo mulang deui
Sabab umur manjing sareupna



Asep Saefulmillah













*Pengawas Sekolah, Kemenag Kab. Tasikmalaya
Email: asep_saepulmillah40@yahoo.com.

Kumpulan Puisi Bening Kusumaningtiyas Az-Zahra

 Kumpulan Puisi Bening Kusumaningtiyas Az-Zahra*

KISAH BULAN DAN BINTANG

Bulan lelah mengusir kabut
Bintang ngantuk batuk-batuk
Bulan memandang purnama
Bintang memejamkan mata.
             Malam merayap pelan
             Mengunggis hati. Pagi
             Datang menagih mimpi
             Siang bergerak lamban
Bulan membaca gelisah
Bintang. Bulan lebur
Di napas Bintang
Jadi serbuk abu
            Bulan yang jadi abu
            Bintang yang jadi wajan
            Abu digosokkan ibu
            Pada wajan. Wajan
Bersih. Abu hanyut di selokan
Bersama buih hidup dan kehidupan.
Bintang yang kini bersih, perlu serbet
Untuk menyeka tubuhnya yang baru.


Tapi tak ada yang mampu jadi serbet
Hari-hari datang tanpa permisi; Bintang
Yang jadi wajan, rindu Bulan. Bulan yang
Jadi abu tak bisa kembali ke pangkuannya

2018


RAKYAT BUKANLAH SERBET


Bung, ini zaman merdeka
Rakyat bukanlah serbet
Bagi mereka yang mencret
Di setiap proyek yang macet

Bung, negeri ini lahir dari rakyat
Mereka yang korupsi dengan dalih
Demi kesejahteraan rakyat; tak pantas
Minta rakyat untuk bayar utang negara

2018

BASKARA ITU KAU


Aku hanya mengerti bahwa cinta itu rasa
Bukan alibi. Aku hanya mengerti bahwa
Rasa itu warna; bukan manipulasi. Aku
Hanya tahu bahwa cintaku padamu, cinta
Terbaik yang tak pernah aku berikan pada
Siapa pun. Aku hanya tahu kaulah muara
Yang kutuju sampai batas usia merenggut.
Aku hanya ingin kau tahu satu hal, bahwa
Bulan bisa jadi purnama sebab baskara.
“Ssst, ini rahasia; baskara itu kau kekasih!”

2018


SEUMPAMA ISI HATI


Kasatmata dalam selam
Tapi enigma jika masuk
Pada kedalamannya

Palung laut
Seumpama isi hati

Siapa mengeja hari
Hanya pribadi
Yang ngerti!

2018

SEOLAH ANGAN

Seekor merpati laut
Melintas di atas ubun-ubun
Siapa pun tak mampu membaca
Kepergiannya ke arah utara

Ia terbang membelah lautan
Menuju negeri entah; seperti
Tubuhku yang ingin pergi
Ke tempat yang tak terduga

Dalam peta, sekedar ingin istirah
Dari penatnya dunia, tapi tugasku
Belum usai di bumiNya. Seekor

Merpati laut yang terbang
Seolah angan yang datang
Semana suka; bujuk laku!

2018


Eneng Sri Supriatin pemilik nama pena Bening Kusumaningtiyas Az-Zahra, lahir di Tasikmalaya pada tanggal 18 Desember 1981. Puisi, Cerpen dan Artikel sastranya sempat terpublikasikan di media cetak baik terbitan Nasional, Daerah dan Lokal. Disamping itu puisi-puisnya termuat juga dalam beberapa antologi bersama, baik yang diterbitan oleh  pemerintah daerah, komunitas mau pun penerbit nirlaba. Antologi puisi tunggalnya, Kalam dari Arafah (PMS, 2017) Kini kesehariannya menjadi tenaga pendidik di MAN Sukamanah Singaparna sebagai guru Sastra dan Seni Indonesia.

























RATAPAN SANG HAMBA

Ratapan Sang Hamba

Wahai sang penggenggam alam
Aku tau kau sedang berang
Melihat tingkah yang ga kepalang
Hingga aku dibuat meradang

Kau timpakan pesan yang bertubi-tubi
Tapi aku tak jua mengerti
Maka pantaslah kau bermuram durja
Hingga kau jadikan tanahku bagai neraka

Kau ingatkan aku dari udara
Daratan kau putar balikan
Hantaman kau kirimkan dari lautan
Tapi aku tak bergeming

Semua murkamu ku anggap biasa
Bagai air mengalir begitu saja
Walau korban berjuta-juta
Tapi ku anggap permainan belaka

Wahai sang maha segala-gala
Sudikah kau maafkan dosa hamba
Yang begitu nista penuh hina
Agar kau kembali seperti sediakala

RahmatMu sangat ku nantikan
HidayahMu sangat aku harapkan
Tak ingin lagi ku dihancurkan
Sebab aku tak sanggup lagi bertahan

#ANN
#29102018: 20 10'

Agus Nana Nuryana, M.M.Pd.
Insan yang selalu berusaha menjadi
manusia pembelajar



Followers