RIYA’ DAN NIFAQManusia sebagai makhluk Tuhan telah dianugerahi berbagai nikmat sehingga hal itu mengharuskan manusia u
VISI, MISI KALIMAH VISI Menjadi guru yang ideal, berprestasi, profesional, dan unggul dalam berkarya. MISI 1. Meningkatkan kemampuan guru dalam memberikan inpirasi kepada peserta didik dalam Proses Belajar Mengajar (PBM). 2. &n...
Latest News
RIYA’ DAN NIFAQ
Manusia sebagai makhluk Tuhan telah dianugerahi berbagai nikmat sehingga hal itu mengharuskan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Caranya bersyukur adalah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, yang diwujudkan dalam beberapa akhlak terpuji terhadap-Nya.
Kebalikannya adalah akhlak tercela (akhlakul madzmumah), yaitu perbuatan yang menyimpang dari ajaran Allah Swt yang nantinya akan berdampak negatif, baik bagi pelaku maupun bagi orang lain. Diantara akhlak madzmumah adalah riya’ dan nifaq.
1. Riya’
Riya’ dalam bahasa Arab artinya memperlihatkan atau memamerkan, secara istilah riya’yaitu memperlihatkan sesuatu kepada orang lain, baik barang maupun perbuatan baik yang dilakukan, dengan maksud agar orang lain dapat melihatnya dan akhirnya memujinya. Hal yang sepadan dengan riya’ adalah sum’ah yaitu berbuat kebaikan agar kebaikan itu didengar orang lain dan dipujinya, walaupun kebaikan itu berupa amal ibadah kepada Allah Swt. Orang yang sum’ah dengan perbuatan baiknya, berarti ingin mendengar pujian orang lain terhadap kebaikan yang ia lakukan. Dengan adanya pujian tersebut, akhirnya masyhurlah nama baiknya di lingkungan masyarakat.
Dengan demikian orang yang riya’ berarti juga sum’ah, yakni ingin memperoleh pujian dari orang lain atas kebaikan yang dilakukan. Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ وَمَنْ يُرَاءِ يُرَاءِ اللهُ بِهِ ( رواه البخاري)
Artinya:” Barang siapa (berbuat baik) karena ingin didengar oleh orang lain (sum’ah), maka Allah akan memperdengarkan kejelekannya kepada yang lain. Dan barang siapa (berbuat baik) karena ingin dilihat oleh orang lain (riya’), maka Allah akan memperlihatkan kejelekannya kepada yang lain.” ( H.R Bukhari).
Allah juga berfirman dalam surat An-Nisa ayat 142 :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللهَ إِلاَّ قَلِيلاً
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. 4 An Nisaa' 142)
Alangkah meruginya orang-orang yang bersifat riya’ dan sum’ah, karena mereka bersusah payah mengeluarkan tenaga, harta dan meluangkan waktu, tetapi Allah tidak menerima sedikit pun amal ibadah mereka,bahkan adzab yang mereka terima sebagai balasannya.
Firman Allah Swt :
لاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَواْ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُواْ بِمَا لَمْ يَفْعَلُواْ فَلاَ تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: “Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Q.S. 3 Ali 'Imran 188)
Sabda Rasulullah Saw:
لاَيَقْبَلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَمَلاً فِيْهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ رِيَاءٍ ( الحديث)
Artinya: “Allah tidak akan menerima amal yang terdapat unsur riya’ di dalamnya walaupun riya’ itu hanya sebesar dzarrah” ( Al-Hadits)
Allah memberikan ancaman bagi pelaku riya’ termasuk ketika melaksanakan ibadah shalat. Orang yang melakukan perbuatan riya’ diancam sebagai pendusta Agama Islam ini, bahkan diancam dengan satu sangsi yaitu neraka Wail. Allah berfirman dalam q.s al-Maun: 4-6, yaitu:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6)
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (QS. 107:4)
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. 107:5)
orang-orang yang berbuat riya”. (QS. alMaun 107:6)
Contoh-contoh perbuatan riya’ misalnya adalah:
a. Sifat –sifat yang melekat pada diri seseorang, seperti suka melekatkan sifat-sifat mulia pada diri sendiri. Hal-hal yang cenderung dipamerkan itu misalnya keelokan dirinya, pakaian atau perhiasan, jabatan di tempat kerja, dan status sosial lainnya.
b. Seseorang menyantuni anak yatim dihadapan banyak orang dengan maksud agar ditayangkan di TV atau radio.
Adapun akibat buruk riya’, antara lain sebagai berikut
a. Menghapus pahala amal baik, ( Q.S. Al-Baqarah ayat 264)
b. Mendapat dosa besar karena riya’ termasuk perbuatan Syirik kecil.
Sabda Rasulullah Saw:
اِنَّ اَخْوَفَ مَااَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلاَصْغَرُ قَالُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ
وَمَا الشِّرْكُ اْلاَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ (رواه أحمد)
Artinya:” Sesungguhnya perkara paling aku khawatirkan dari beberapa hal yang aku khawatirkan adalah syirik kecil. Sahabat bertanya, “ Apa syirik kecil itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’” ( H.R Ahmad)
c. Tidak selamat dari bahaya kekafiran karena riya’ sangat dekat hubungannya dengan sikap kafir. (Q.S Al-Baqarah ayat 264).
2. Nifaq
Kata nifaq berasal dari kata: nafiqa alyarbu’, artinya lobang hewan sejenis tikus. Lobang ini ada dua, ia bisa masuk ke lobang satu kemudian keluar lewat lobang yang lain. Demikianlah gambaran keadaan orang-orang munafik, satu sisi menampakkan Islamnya, tetapi di sisi lain ia amat kafir dan menentang kepentingan Agama Islam.
Nifaq adalah perbuatan menyembunyikan kekafiran dalam hatinya dan menampakkan keimanannya dengan ucapan dan tindakan. Perilaku seperti ini pada hakikatnya adalah ketidaksesuaian antara keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Atau dengan kata lain, tindakan yang selalu dilakukan adalah kebohongan, baik terhadap hati nuraninya, terhadap Allah Swt maupun sesama manusia. Pelaku perbuatan nifaq di sebut munafik. Firman Allah Swt.
وَإِذَا لَقُواْ الَّذِيْنَ اٰمَنُواْ قَالُواْ اٰمَنَّا وَإِذَا خَلَواْ إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُواْ إِنَّا مَعَكْمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
Artinya:”Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". (Q.S. 2 Al Baqarah 14)
oohanapiah
February 29, 2020
Blogger
IndonesiaManusia sebagai makhluk Tuhan telah dianugerahi berbagai nikmat sehingga hal itu mengharuskan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Caranya bersyukur adalah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, yang diwujudkan dalam beberapa akhlak terpuji terhadap-Nya.
Kebalikannya adalah akhlak tercela (akhlakul madzmumah), yaitu perbuatan yang menyimpang dari ajaran Allah Swt yang nantinya akan berdampak negatif, baik bagi pelaku maupun bagi orang lain. Diantara akhlak madzmumah adalah riya’ dan nifaq.
1. Riya’
Riya’ dalam bahasa Arab artinya memperlihatkan atau memamerkan, secara istilah riya’yaitu memperlihatkan sesuatu kepada orang lain, baik barang maupun perbuatan baik yang dilakukan, dengan maksud agar orang lain dapat melihatnya dan akhirnya memujinya. Hal yang sepadan dengan riya’ adalah sum’ah yaitu berbuat kebaikan agar kebaikan itu didengar orang lain dan dipujinya, walaupun kebaikan itu berupa amal ibadah kepada Allah Swt. Orang yang sum’ah dengan perbuatan baiknya, berarti ingin mendengar pujian orang lain terhadap kebaikan yang ia lakukan. Dengan adanya pujian tersebut, akhirnya masyhurlah nama baiknya di lingkungan masyarakat.
Dengan demikian orang yang riya’ berarti juga sum’ah, yakni ingin memperoleh pujian dari orang lain atas kebaikan yang dilakukan. Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ وَمَنْ يُرَاءِ يُرَاءِ اللهُ بِهِ ( رواه البخاري)
Artinya:” Barang siapa (berbuat baik) karena ingin didengar oleh orang lain (sum’ah), maka Allah akan memperdengarkan kejelekannya kepada yang lain. Dan barang siapa (berbuat baik) karena ingin dilihat oleh orang lain (riya’), maka Allah akan memperlihatkan kejelekannya kepada yang lain.” ( H.R Bukhari).
Allah juga berfirman dalam surat An-Nisa ayat 142 :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللهَ إِلاَّ قَلِيلاً
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. 4 An Nisaa' 142)
Alangkah meruginya orang-orang yang bersifat riya’ dan sum’ah, karena mereka bersusah payah mengeluarkan tenaga, harta dan meluangkan waktu, tetapi Allah tidak menerima sedikit pun amal ibadah mereka,bahkan adzab yang mereka terima sebagai balasannya.
Firman Allah Swt :
لاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَواْ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُواْ بِمَا لَمْ يَفْعَلُواْ فَلاَ تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: “Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Q.S. 3 Ali 'Imran 188)
Sabda Rasulullah Saw:
لاَيَقْبَلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَمَلاً فِيْهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ رِيَاءٍ ( الحديث)
Artinya: “Allah tidak akan menerima amal yang terdapat unsur riya’ di dalamnya walaupun riya’ itu hanya sebesar dzarrah” ( Al-Hadits)
Allah memberikan ancaman bagi pelaku riya’ termasuk ketika melaksanakan ibadah shalat. Orang yang melakukan perbuatan riya’ diancam sebagai pendusta Agama Islam ini, bahkan diancam dengan satu sangsi yaitu neraka Wail. Allah berfirman dalam q.s al-Maun: 4-6, yaitu:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6)
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (QS. 107:4)
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. 107:5)
orang-orang yang berbuat riya”. (QS. alMaun 107:6)
Contoh-contoh perbuatan riya’ misalnya adalah:
a. Sifat –sifat yang melekat pada diri seseorang, seperti suka melekatkan sifat-sifat mulia pada diri sendiri. Hal-hal yang cenderung dipamerkan itu misalnya keelokan dirinya, pakaian atau perhiasan, jabatan di tempat kerja, dan status sosial lainnya.
b. Seseorang menyantuni anak yatim dihadapan banyak orang dengan maksud agar ditayangkan di TV atau radio.
Adapun akibat buruk riya’, antara lain sebagai berikut
a. Menghapus pahala amal baik, ( Q.S. Al-Baqarah ayat 264)
b. Mendapat dosa besar karena riya’ termasuk perbuatan Syirik kecil.
Sabda Rasulullah Saw:
اِنَّ اَخْوَفَ مَااَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلاَصْغَرُ قَالُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ
وَمَا الشِّرْكُ اْلاَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ (رواه أحمد)
Artinya:” Sesungguhnya perkara paling aku khawatirkan dari beberapa hal yang aku khawatirkan adalah syirik kecil. Sahabat bertanya, “ Apa syirik kecil itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’” ( H.R Ahmad)
c. Tidak selamat dari bahaya kekafiran karena riya’ sangat dekat hubungannya dengan sikap kafir. (Q.S Al-Baqarah ayat 264).
2. Nifaq
Kata nifaq berasal dari kata: nafiqa alyarbu’, artinya lobang hewan sejenis tikus. Lobang ini ada dua, ia bisa masuk ke lobang satu kemudian keluar lewat lobang yang lain. Demikianlah gambaran keadaan orang-orang munafik, satu sisi menampakkan Islamnya, tetapi di sisi lain ia amat kafir dan menentang kepentingan Agama Islam.
Nifaq adalah perbuatan menyembunyikan kekafiran dalam hatinya dan menampakkan keimanannya dengan ucapan dan tindakan. Perilaku seperti ini pada hakikatnya adalah ketidaksesuaian antara keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Atau dengan kata lain, tindakan yang selalu dilakukan adalah kebohongan, baik terhadap hati nuraninya, terhadap Allah Swt maupun sesama manusia. Pelaku perbuatan nifaq di sebut munafik. Firman Allah Swt.
وَإِذَا لَقُواْ الَّذِيْنَ اٰمَنُواْ قَالُواْ اٰمَنَّا وَإِذَا خَلَواْ إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُواْ إِنَّا مَعَكْمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
Artinya:”Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". (Q.S. 2 Al Baqarah 14)
Madrasah Kita
(Sebuah argumentasi awal untuk mengajak berdiskusi)
Oleh: Muhammad Helmi Aminudin*
Berawal
dari sebuah berita undangan kepada guru madrasah untuk mengikuti tes kelayakan
untuk menjadi kepala madrasah, yang beritanya begitu booming di berbagai grup Whats app yang saya ikuti, ternyata
peminatnya pun begitu banyak, dari berbagai kalangan baik guru ASN yang
mengajar di Negeri maupun di Swasta. Melihat fenomena ini ada sebuah kegalauan
yang begitu besar di hati ini melihat begitu banyak peminat untuk menjadi
seorang leader, kegalauan ini entah
berdasar atau tidak karena bagi saya pribadi sejak bangku Madrasah Ibtidaiyah
Sampai dengan Madrasah Aliyah, dari Marhalah Idadiyah sampai Marhalah
Mutaqoddimah, tidak pernah satu orang pun dari guru baik di sekolah ataupun di
Pesantren mengajarkan untuk mengejar sebuah kursi jabatan, bahkan Almagfurlah
guru besar saya KH Wahab Muhsin dan KH Syihabudin Muhsin, mewanti wanti, bahwa
jabatan adalah sebuah amanat dan sebuah beban yang harus dipertanggungjawabkan.
Hampir semua guru saya mencontohkan kepada situasi Syaidina Abu Bakar RA,
ketika berbicara tentang masalah kepemimpinan, dimana Beliau sama sekali tidak
mengharapkan menjadi seorang Khalifah walaupun semua umat islam baik Muhajirin
ataupun Ansor sepakat bahwa Beliau lah yang paling layak mengisi posisi
Khalifah, sampai sampai pada Waktu itu para pembesar Muhajirin dan Ansor
Seperti Saad bin Muadz dkk mengundurkan diri dan berjanji setia kepada Syaidina
Abu Bakar. Namun apa yang pertama kali diucapkan oleh Syaidina Abu Bakar,
Beliau mengucapkan Innalilahi wa Inna
Ilaihi Rojiun.
Perlu
diketahui bahwa Ucapan Innalilahi wa Inna
Ilaihi Rojiun dalam Islam seperti yang dicontohkan oleh Rasululah saw
adalah untuk merespon kejadian berupa Musibah. Dalam tafsir Jalalain pernah
diriwayatkan di rumah Rasululah saw lilin yang dipakai untuk penerangan rumah
Beliau padam, lalu Rasululah saw mengucapkan Innalilahi wa Inna Ilaihi Rojiun, kemudian Siti Aisyah bertanya
“Wahai rasulullah, ini hanya lilin yang padam”, lalu Rasul pun menjawab bahwa
“segala sesuatu yang tidak mengenakan bagi seorang muslim itu adalah musibah”
Jadi
berkaca dari dua hal tadi, bahwa Syaidina Abu Bakar mengucapkan Innalilahi wa Inna Ilaihi Rojiun. Yang
mana ucapan ini seperti yang Rasul sampaikan adalah ucapan untuk merespon sebuah
musibah,, maka dapat disimpulkan bahwa menurut Abu Bakar, sebuah tugas
kepemimpinan adalah sebuah musibah karena di dalamnya ada sebuah tanggung jawab
yang harus diemban, baik di dunia maupun di akherat. Setiap kalian adalah
pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.
Kembali
lagi pada madrasah, memang studi kelayakan untuk menjadi seorang kepala
madrasah penting untuk dilakukan, dengan harapan tentunya akan menghasilkan
seorang pemimpin yang layak dan kompeten, baik dari segi leadership maupun administrasi. Hasil yang didapatkan dari fit
and propper test tersebut diharapkan
bukan hanya cakap secara administrasi, sehingga bisa menghasilkan seorang
pemimpin, bukan menghasilkan seorang pimpinan.
Mengutip
dari situs Kubik Leadership perbedaan antara Pemimpin dan Pimpinan adalah
1. Pimpinan bergantung pada otoritas dalam menggerakan anak
buahnya, sememtara Pemimpin bergantung pada niat baik untuk kebaikan
bersama.
2. Pimpinan menuntut hasil dan lepas tangan, sementara Pemimpin menunjukan jalan dan
mengambil tanggung jawab atas prosesnya.
3. Pimpinan dipatuhi karena rasa takut, sementara Pemimpin dipatuhi atas dasar kerelaan
hati.
4. Dalam
mencapai tujuan bersama, Pimpinan
menguras energi anak buahnya, sementasra Pemimpin
menjadi sumber energi.
5. Pimpinan memerintah, sementara Pemimpin mengajak.
Jadi jelas untuk menajdi seorang pemimpin bukan hanya mempunyai
kecakapan secara administrasi, namun juga harus mempunyai empati kepada
bawahannya, dipercayai bawahannya, bisa memberikan energi positif kepada anak
buahnya, dan dapat menjadi koordinator yang baik dalam organisasi yang dia
pimpin. Lalu ketika sebuah jabatan ditenderkan, maka disadari atau tidak maka
pemenang dari tender harus memuaskan hati dari pemberi tender, karena jika
pemberi tender tidak puas maka jabatan bisa diberikan kepada orang lain yang
menawarkan paket yang lebih menarik bagi pemberi tender.
Wallohu alam bissawab...
Wallohu alam bissawab...
Madrasahku 2
Menemani malam jumat ini, 13 Peruari
2020 mari kembali kita belajar menulis dan sedikit melanjutkan belajar
berargumen menyambung dari tulisan yang sudah tayang pada episode sebelumnya,
yang berjudul Madrasahku….
Apabila sebagian pembaca menilai
bahwa tulisan yang saya bawakan bersifat tendensius, ya saya jawab benar, namun
perlu diingat, bahwa arti tendensius tidak selalu bermakna negatif, karena
menurut KBBI tendensius mempunyai beberapa arti 1) keberpihakan 2) suka
menyusahkan. Saya sendiri lebih memilih arti kata tendensius sebagai
keberpihakan pada kebenaran. Ataupun jika mau maka makna yang kedua, mari kita
takwil sebagai suka menyusahkan orang yang ingin berbuat tidak berpihak pada
kebenaran.
Baiklahlah kita lanjutkan tulisan ini
agar tidak melantur kemana-mana.
Pernah suatu ketika, Syaidina Ali RA
diberikan pertanyaan oleh pengikutnya, karena melihat kondisi di masa
pemerintahan beliau sudah mulai timbul bibit perpecahan dan permusuhan di
antara umat islam, juga terjadi dekadensi dari segi moral dari umat islam.
Penanya tersebut membandingkan dengan priode kekhilafahan Syaidina Abu Bakar
RA.
Jawaban Syaidina Ali RA yang
legendaris sampai hari ini adalah “ Singa tidak akan memimpin kawanan tikus”.
Dengan jawaban tersebut seakan Syaidina Ali mengonfirmasi bahwa untuk
mendapatkan seorang pemimpin yang baik harus dimulai dengan memperbaiki kondisi
lingkungannya, dengan kondisi yang baik maka akan melahirkan pimpinan yang baik
pula. Dengan perkataan lain, pimpinan adalah representasi dari kondisi
lingkungannya.
Menyambung dengan tulisan pertama,
untuk melahirkan seorang pimpinan yang baik dan menjadi panutan di madrasah,
maka sebagai warga madrasah kita harus bisa bermuhasabah
sudah pantaskah kita mendapatkan pimpinan yang baik ketika kita sendiri hanya
sibuk memprotes telatnya insentif ataupun TPG, namun kita lupa kewajiban kita
sebagai pendidik yang bertugas memberikan pengalaman belajar pada siswanya dan
memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada meraka.
Mbah Moen, dalam sebuah Qoutes yang dikenal, beliau mengatakan
“jadi guru itu ndak usah niat bikin pintar orang, nanti kamu jadi marah kalau
muridmu gak pintar, ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu
dan mendidik yang baik”.
Dari Qoutes Mbah Moen ini jelas sudah mulai pudar di pendidik hari ini,
kalau dulu beliau melarang guru untuk memaksa siswa supaya mengerti dan pintar,
dengan tujuan supaya terpelihara nilai keikhlasan, maka hari ini semangat untuk
“memintarkan” anak pun sudah mulai hilang dengan selalu tiap bulan isu TPG,
ULP, dan tukin yang menjadi bahasan. Sudah hilang perbincangan yang terlarang
menurut Mbah Moen ketika guru membicarakan siswanya yang susah mengerti, telat
paham dan lain sebagainya, berganti dengan TPG dan tukin. Jadi sudah dapat
ditebak, jangankan berbicara keikhlasan dalam mengajar tentang HIRSUN memintarkan anak pun sudah tiada.
Padahal mengutip perkataan ketua MUI
Kab Tasikmalaya, KH Ii Abdul Basith, dalam berbagai kesempatan beliau selalu
memotivasi guru dengan perumpaan sebagai selebritas langit. Karena mereka nanti
akan dipanggil oleh para Malaikat. Adakah motivasi yang lebih baik daripada
itu?
Akhir kata, harus ada sinergitas yang
baik di semua stekholder madrasah, mengembalikan lagi spirit pendidik, dan
ingat pendidik adalah pekerjaan yang mulia, supaya dari madrsah lahir pemimpin
yang diharapkan, namun jika mentalitas belum berubah maka jangan diharap akan
menghasilkan pimpinan yang baik.
MADRASAH KITA
Posted by Editor
on February 13, 2020

Madrasah Kita
(Sebuah argumentasi awal untuk mengajak berdiskusi)
Oleh: Muhammad Helmi Aminudin*
*Guru MTsN 1
KETELADANAN UMAR BIN ABDUL AZIZ BAGI PEMIMPIN ZAMAN MILENIAL
Oleh : H. Oo Hanapiah, M.Ag
Kabag. Akademik IAILM Suryalaya
Umar bin Abdul Aziz lahir di Madinah pada tahun ke 63 Hijriah atau 682 Masehi. Beliau adalah Khalifah ke – 8 dari Dinasti Umayyah. Umar bin Abdul Aziz terkenal sebagai khalifah yang bijaksana, adil dan jujur. Beliau sangat kuat dan teguh dalam mengamalkan ajaran Islam, baik ketika beliau sebagai rakyat biasa, maupun ketika beliau sebagai pejabat negara. Beliau pernah dipecat dari jabatan gubernur Hejaz di Madinah, karena berbeda pendapat dengan Walid bin Abdul Malik, Kalifah ke-6 Dinasti Ummayyah. Namun, ketika khalifah ke-7 berkuasa, yakni Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi sekretaris (al-Katib). Nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Azis bin Marwan bin Hakam bin Harb bin Umayyah. Ayahnya, Abdul Azis, pernah menjadi gubernur di Mesir selama beberapa tahun. Ia masih merupakan keturunan Umar bin Al-Khathab melalui ibunya, Lailah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Al-Khathab.Ketika kecil, Umar bin Abdul Azis sering berkunjung ke rumah paman ibunya, Abdullah bin Umar bin Al-Khathab. Setiap kali pulang, ia selalu mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin seperti kakeknya. Ibunya menerangkan bahwa kelak ia akan hidup seperti kakeknya itu. Seorang ulama yang wara'.Umar menghabiskan sebagian besar hidupnya di Madinah. Ketika ayahnya, Abdul Azis wafat, Khalifah Abdul Malik bin Marwan menyuruhnya ke Damaskus dan menikahkan dengan putrinya, Fathimah. Pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Azis diangkat menjadi gubernur Hijaz. Ketika itu usianya baru 24 tahun. Saat Masjid Nabawi dibongkar untuk direnovasi, Umar bin Abdul Azis dipercaya sebagai pengawas pelaksana.Langkahnya yang bisa dicontoh oleh para pemimpin saat ini adalah membentuk sebuah Dewan Penasihat yang beranggotakan sekitar 10 ulama terkemuka saat itu. Bersama merekalah Umar mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Ketika Sulaiman wafat, Umar dipercaya menggantikannya menjadi khalifah. Walaupun Umar memerintahhanya dua setengah tahun, namun banyak kemajuan yang dicapai, terutama membangun kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera. Nama Umar bin Abdul Aziz terkenal sebagai khalifah yang jujur. Beliau memberi teladan kepada seluruh pegawai negara agar berlaku jujurdan tidak melakukan korupsi. Beliau tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Kejujuran khalifah Umar bin Abdul Aziz dikisahkan bahwa pada suatu malam, ketika Umar bin Abdul Aziz bekerja di kantornya, tiba-tiba datang putranya untuk keperluan keluarga, saat itu pula, beliau memadamkan lampu minyak yang beliau gunakan sebagai penerang. Melihat ayahnya memadamkan lampu, putranya heran dan bertanya. “ Mengapa lampu itu ayah padamkan ?” Umar menjawab “ lampu dan minyak dibeli dengan menggunakan uang negara yang berarti pula uang rakyat, sedangkan kita membicarakan masalah keluarga, jadi tidak baik menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan keluarga.” Mendengar jawaban Umar, putranya sangat kagum akan kejujuran ayahnya itu. Memang Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai khalifah yang adil dalam memutuskan suatu perkara. Pada masa pemerintahannya, beliau menetapkan beberapa syarat bagi posisi hakim. Menurutnya, dalam menyelesaikan suatu perkara, seorang hakim harus mendasarkan keputusan pada Al-Quran, Al-Hadits, Ijmak, dan Ijtihad. Oleh karena itu, beliau menetapkan lima syarat yang harus dimiliki oleh hakim, yaitu ; ilmu pengetahuan tentang sejarah, sifat antitamak, jiwa penyantun, sifat bekerja sama dengan para cendikiawan, dan kebebasan intervensi dari pengaruh penguasa manapun. Demikianlah gambaran teladan pemimpin yang harus dimiliki oleh para pemimpin bangsa Indonesia, baik presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pusat maupun daerah serta Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
oohanapiah
October 02, 2019
Blogger
IndonesiaKETELADANAN UMAR BIN ABDUL AZIZ BAGI PEMIMPIN ZAMAN MILENIAL
Posted by Editor
on October 02, 2019

KETELADANAN UMAR BIN ABDUL AZIZ BAGI PEMIMPIN ZAMAN MILENIAL
Oleh : H. Oo Hanapiah, M.Ag
Kabag. Akademik IAILM Surya
BANGGA
MENJADI GURU IPS
Ai
Riani Sofah, S.Pd*
![]() |
*(Guru MTsN 2 Tasikmalaya) |
Siapa
bilang menjadi guru IPS tidak berbobot, kurang bergengsi, atau tidak keren?
Siapa bilang mengajar IPS itu sangat mudah dan cetek? Siapa bilang belajar IPS hapalan melulu?
Ungkapan di atas merupakan sebagian cibiran miring
dari orang-orang nyinyir yang menganggap dirinya
superior dengan bidang ilmunya dengan merendahkan bidang ilmu lain. Arogansi
keilmuan ini tidak membuat saya rendah diri (imperior), emang gue pikirin (EGP). Malah sebaliknya, saya merasa bersyukur,
bangga dan puas menjadi guru IPS tanpa harus membanding-bandingkan dengan
bidang ilmu lainnya apalagi merendahkannya, mengapa?
Pertama, bagi saya mengajar IPS adalah mengajarakan tentang kehidupan manusia hubungannya dengan
sesama manuasia dan lingkungannya. Maksudnya, belajar IPS tidak semata-mata
menghapalkan peristiwa, waktu, dan orang-orang terdahulu, tetapi lebih dari
itu, ilmu ini mengajarkan peserta didik agar bijak menghadapi fenomena kehidupan.
Mereka dapat mengambil pembelajaran dan
nilai- nilai kebaikan (hikmah) sebagai
bekal hidup bermasyarakat. Di samping itu, ilmu ini membekali mereka agar dapat berinteraksi dengan
lingkungan sekitar sehingga dapat
memberi manfaat bagi kehidupan.
Kedua,
mengajar IPS dapat mendatangkan kepuasan
jiwa dan kesenangan. Celotehan, tawa, keluguan anak baru gede (ABG), membuat
saya tersenyum sekaligus dapat mencairkan kebekuan dan kekakuan hubungan saya
dan murid-murid. Sapaan hangat, cium tangan dan sambutan riang di depan kelas
dengan wajah ceria kerap menghiasai hari-hariku.
Saya merasa senang jika mereka -dengan tidak
meraca canggung menyampaikan perasalahan yang mereka hadapi, dan saya
pun siap menjadi pendengar setia bagi mereka. Ketika saya berulang tahun,
murid-muridku mengucapkan selamat sejahtera dan mendoakan kebaikan dengan
memberi kado dan kue ultahnya. Kebahagiaan seorang guru, apabila di antara murid-muridnya ada berhasil
melebihi gurunya.
Ketiga,
mengajar adalah melatih kesabaran. Saya pun manusia biasa yang terkadang tidak
dapat mengendalikan perasaan dan emosi. Terkadang saya mengeluh ketika murid-murid
saya tidak mau belajar setelah
berkali-kali diperingatkan. Di samping itu, saya juga suka merasa jengkel jika mereka tidak mengerjakan
PR, membuat kegaduhan dan menggangu
teman-temanya di kelas. Masih ditemukan
mereka datang terlambat, minggat atau sering tidak masuk kelas tanpa alasan
yang jelas. Cara berpakaian dan berpenampilan mereka yang tidak selayaknya anak sekolah terkadang membuat
saya bosan menegurnya. Tetapi, saya yakin bahwa inilah ladang amal saleh dan
bentuk pengabdian diri kepada AllAh SWT. Saya menyadari bahwa menanamkan pembiasaan
yang baik itu perlu proses dan membutuhkan keikhlasan, kesungguhan dan
kesabaran.
Keempat, mengajar bagi saya adalah suatu upaya untuk
membelajarkan dan berpikir kritis. Saya banggga ketika peserta didik dapat belajar dengan caranya
sendiri dari berbagai sumber tanpa harus disuruh. Mereka juga didorong untuk
dapat berpikir kritis sesuai dengan perkembangan kognitifnya. Mereka senang apabila pembelajaran selalu
dikaitkan dengan kontek kehidupan nyata.
Untuk itu, saya selalu mendorong mendorong mereka untuk belajar dengan
menggunakan berbagai sumber informasi, tidak terbatas pada buku paket yang
biasa digunakan di kelas. Demikian pula, supaya mereka terbiasa berpikir
kritis, saya memberi pertanyaan dan soal-soal yang menantang pada lembar kerja.
Di samping itu mereka didorong untuk berpikir mendalam tentang topik
tertentu; Mereka selalu didorong untuk
berpikir kritis dan mampu menemukan jawaban berdasarkan pengalaman dan hasil
refleksinya.
Kelima,
mengajar IPS bagi saya, memengaruhi dan menginspirasi. Sejatinya, kata-kata,
sikap, tindakan dan penampilan guru menjadi model bagi murid-muridnya. Semua
yang nampak pada diri guru merupakan pendidikan yang tidak direncanakan secara
langsung bagi murid, atau dalam istilah pendidikan disebut kurikulum
tersembunyi (hidden curriculum). Untuk itu, saya selalu menjaga diri dengan
cara menjaga kata, sikap dan penampilan saya di kelas dan di luar kelas. Semua
demi kelangsungan pendidikan murid-murid saya.
Secara
kebetulan, di dalam angkutan kota ketika
saya pergi berbelanja, saya bertemu dengan seorang mahasiswi tingkat akhir pada
sebuah perguruan tinggi terkemuka di Bandung. Dia mengaku alumni sekolah tempat
saya mengajar 10 tahun lalu. Lama tidak
bertemu, saya pun lupa namanya, tapi wajahnya masih familiar. Sedikit
bernostalgia, katanya dulu dia pernah ngefan
atau mengidolakan saya sebagai guru favoritnya. Selanjutnya, dia mengatakan
bahwa dirinya terinspirasi dengan gaya mengajar saya yang menggairahkan dan
menyenangkan. Bahkan, dia dulu
bercita-cita ingin menjadi guru seperti
saya. Alhamdulillah, dia sekarang sudah
mengajar di sekolah di daerah kelahirannya, mengajar IPS juga.
Alhasil,
saya bersyukur kepada Tuhan Yang maha Kuasa dan bangga menjadi guru sebagai
sebuah karunia yang tak terhingga. Sebagai profesi yang mulia, guru bukan hanya
bertanggungjawab mengajar, membimbing dan mendidik tetapi
lebih jauh, guru menyiapkan generasi masa depan bangsa yang bermutu. Oleh
karena itu, tidak ada alasan menjadi guru IPS harus rendah diri. Wallahu’alam
BANGGA MENJADI GURU IPS
Posted by Editor
on August 28, 2019

BANGGA
MENJADI GURU IPS
Ai
Riani Sofah, S.Pd*
*(Guru MTsN 2 Tasikmalaya)
Siapa
bilang m
Menaklukan
Hewan Buas
Oleh: Muhammad Helmi Aminudin*
![]() |
*Pengajar di MTsN 1 Tasikmalaya |
Dalam masyrakat Arab jauh sebelum kedatangan Islam telah mengenal
budaya berburu dengan menggunakan binatang buas seperti anjing, elang, bahkan
cheetah. Tujuan dari kegiatan tersebut ada banyak ada yang murni untuk berburu,
ada untuk pertandingan, dan ada pula sebagai kesenangan semata untuk menunjukan
kelas mereka.
Yang menarik dari kegiatan ini adalah bagaimana mereka mampu untuk
menaklukan dan melatih dari binatang-binatang buas itu agar mampu dijadikan
sebagai patrner mereka dalam berburu. Padahal seperti yang kita ketahui seekor
anjing mempunyai sifat dasar kebinatangan yang rakus, agresif, dan buas. Namun
ketika sudah dilatih dengan seksama untuk dijadikan sebagai anjing pemburu
hilanglah sudah sifat rakus, agresif dan buas mereka. Mereka hanya berburu
ketika disuruh, mereka hanya membunuh binatang buruan tanpa secuil pun mereka
makan.
Dalam kaitan dengan berburu menggunakan
binatang yang sudah terlatih alquran menyatakan dalam surat Almaidah ayat 4.
يسألونك ماذا أحل لهم, قل أحل لكم الطيبات وما علمتم من الجوارح
مكلبين تعلمونهن مما علمكم الله
Asbab nuzul dari ayat ini sebagaimana dikutip dari Tafsir jalalain
bahwa tatkala Jibril As mendatangi rasululah saw, beliau tidak, mau
masuk dikarenakan ada anjing di tempat tersebut. Jibril berkata bahwasannya Dia tidak akan masuki kedalam rumah yang
terdapat anjing di dalamnya.
Kemudian Rasulullah saw memerintahkan kepada Abu Rofi untuk
membunuh semua anjing yang ada di Madinah. Sampai pada satu rumah perempuan yang memelihara anjing yang
digunakan sebagai penjaga bagi perempuan tersebut. Lalu Abu Rofi mendatangi
Rasulullah saw memberitahukan hal tersebut, namun Rasulullah saw tidak bergeming dan tetap memerintahkan untuk
membunuhnya. Lalu orang Madinah mendatangi Rasulullah saw dan mengadukan
masalah ini ما يحل لنا من
هذه الأمة التي أمرت بقتلها
Namun Rasul tidak menjawab karena menunggu wahyu, lalu turunlah ayat tadi sebagai jawaban bahwa diperbolehkan memelihara anjing yang sudah dijinakan sebatas
untuk keperluan menjaga dan berburu.
Dalam menaklukan binatang buas terdapat beberapa teknik sebagai berikut, diantaranya:
1.
Promosi
Promosi dalam hal ini adalah pembiasaan dari si pelatih
kepada binatang latihannya ketika masih kecil untuk mengasah nilai berburu dan menekan
naluri liar mereka.
2.
Lapar
Maksud lapar disini adalah teknik penjinakan binatang
yang dilakukan dengan cara membiarkan bintang yang liar itu menjadi lapar tanpa
makanan, sehingga dengan sendirinya dia menjadi besar ketergantungan kepada pelatih
yang akhirnya dia menjadi penurut karena ketergantungannya itu.
3.
Saya pemimpin
Teknik ini saya lihat dalam acara dog wishperer, teknik ini dilakukan oleh pelatih dalam menekan sifat
keliaran seekor anjing dengan cara tidak membiarkan si anjing tersebut berjalan
di depan pemiliknya.
Kita tahu bahwa dalam diri kita terdapat
binatang yang lebih buas daripada harimau, Anjing, ataupun yang lainnya yang
apabila tidak ditundukan akan menjadikan kita lebih buas dari pada binatang. Apakah
binatang tersebut? Yaitu adalah hawa nafsu. ان النفس
لامرة بالسوء
Kepada murid nafsu itu akan berbisik untuk malas belajar. Dia akan mengatakan
“lah sakola-sakola teuing, presiden geus aya,
mentri loba, sarjana ge loba nu nganggur.” Kepada guru akan membisik untuk malas
mengajar. Dia akan mengatakan “lah duit gula
teu amis, duit uyah teu asin”.
Kita diciptakanفي أخسن تقويم)( لقد خلقنا الانسان andai kata anjing
yang hanya mengandalkan insting tanpa akal dan budi mampu menekan sisi
kebinatangannya, maka alangkah malunya kita sebagai manusia tak mampu menekan
sifat kebinatangan kita.
Tips
yang dapat kita lakukan guna menaklukan sifat kebinatangan ada beberapa seperti
yang disebutkan diatas.
1.
Promosi
Alhamdulilah
kita dalam hal ini telah melingkup diri baik guru ataupun siswa dalam
lingkungan yang positif baik di pesantren ataupun sekolah. Bagi siswa kalian
sudah diasah untuk menekan sifat kebinatangan diri sejak dini di pesantren dan
sekolah. Sehingga insting akhlak kalian akan selalu positif, insya allah.
2.
Lapar
Apabila
nafsu hewan kita masih menggebu atau sedang menggebu, maka berilah rasa lapar
kepada nafsu tersbut dengan berpuasa. Sebab dengan puasa akan menekan nafsu
syahwat dan godob (marah)
3.
Saya
pemimpin
Ketahuilah
dalam jiwa kita ada tiga elemen. Akal, syahwat, dan Godob. Syahwat adalah nafsu dalam bentuk keinginan, keinginan
jabatan, keinginan kabur dari sekolah dan lain lain. Sedangkan Godob adalah
nafsu Amarah, amarah karena tak dihaormati orang, amarah karena tak turuti
keinginan dan lainnya.
Maka
apabila syahwat atau godob yang
menjadi raja di hati kita, bisa dibayangkan serakah dan buasnya kita sebagai
manusia melebihi binatang, kenapa? Karena syahwat dan amarah kita didukung oleh
akal beda dengan binatang yang hanya menggunakan insting.
Oleh
karena itu jadikan akal menjadi raja di hati kita, agar syahwat kita menjadi
syahwat yang positif, amarah kita pun menjadi amarah yang positif.
MENAKLUKAN HEWAN BUAS
Posted by Editor
on July 28, 2019

Menaklukan
Hewan Buas
Oleh: Muhammad Helmi Aminudin*
*Pengajar di MTsN 1 Tasikmalaya
Dalam masyrakat Arab ja
DUA PISAU BEDAH UNTUK KANG ACEP ZAM-ZAM
Oleh: Muhammad Helmi Aminudin
![]() |
*Guru di MTsN 1 Tasikmalaya |
TAHAJUD (2)
Aku tak tahu kapan dunia buruk ini akan
berubah
Menjadi onggokan-onggokan sampah
Mungkin saat kukumpulkan pecahan-pecahan api
Di anatara sinar bulan yang membusuk
Atau ketika kuhamili sunyi di sudut malam
Hingga lahir seratus bayi
Dari kemabukanku yang khsyuk
Aku memasuki terowongan
Menghimpun segenap kegelapan dalam dadaku
Untuk kuledakan menjadi cahaya
Tanganku mengembang seperti burung raksasa
Yang mencakari mataku sendiri
Lalu tertawa pada dunia yang kutinggalkan
Aku terpejam
Memasuki kekosongan yang nikmat
Kupungut kepingan-kepingan galaksi itu
Dan kubakar pakaianku yang lusuh
Lihatlah, kini aku telanjang
Dengan dada yang terbongkar
Merangkak terus menghampiri pagi bersujud
tiada henti (1990)
Tahajud (2) adalah salah satu puisi dari
antologi puisi Kang Acep Zam-zam Nur yang berjudul Jalan Menuju Rumahmu. Profil
Kang Acep bagi orang Tasik khususnya terlebih bagi yang bergelut di dunia
sastra dan guru Bahasa Indonesia sudah tidak asing lagi. Beliau adalah putra
dari salah satu ulama terkenal di Tasikmalaya, dari pondok Pesantren Cipasung
yaitu K.H Ilyas Ruhiyat. Beliau dilahirkan pada Tanggal 28 Pebruari 1960.
Kumpulan puisi beliau sudah sangat banyak, bahkan beberapa diantaranya sudah
dimuat media asing seperti di poet chant (Jakarta 1995) dan
diterjemahkan oleh Harry Avelling untuk Secrets need Words : Indonesian
Poetry 1966-1998 ( Ohio University Press, 2001)
Kembali ke puisi Tahajud, dalam dunia
analitik karya sastra ada banyak madzhab yang bisa kita gunakan dalam
menganalisis, terlebih lagi bahwasanyya puisi memiliki kode bahasa yang unik
dibanding dengan karya sastra yang lainnya. Keunikan tersebut karena puisi
memadatkan bahasa yang dipakai, menyimpan banyak makna di balik kata, menyimpan
arti di balik diksi. Ditambah dengan bahasa konotasi dan lambang yang
dipergunakan.
Di sekolah-sekolah pada buku pelajaran yang
diampu oleh para guru, analisis karya sastra puisi menggunakan teori
strukturalisme, yang mana teori tersebut menganalisis sebuah puisi dari
strukturnya baik itu struktur fisik maupun struktur batin.
Herman J Waluyo (1987) mengatakan bahwa
Struktur puisi terbagi dua yakni struktur fisik (metode) dan struktur batin
(hakikat). Struktur fisik puisi adalah unsur estetis yang membangun puisi dari
dari luar, yangb dapat ditelaah satu persatu, tetapi unsur-unsur itu merupakan
kesatuan yang utuh. Unsur-unsur itu ialah : diksi, pengimajian, kata kongkret,
majas, versifikasi, dan tifografi. Sedangkan struktur batin adalah hakikat dari
puisi, hakikat ini meliputi tema, perasaan, sikap penyair atau nada, dan
amanat.
Kembali
ke puisi Tahajud (2) di atas tadi, jika kita mencoba membedah dengan
pisau bedah strukturalisme, maka tata alurnya akan seperti yang diungkapkan di
atas.
Membedah Puisi Tahajud dengan metode strukturalisme
Struktur fisik puisi.
a. Diksi
Diksi dapat dikatakan sebuah cara dari penyair
untuk memilih kata secara cermat, juga dengan mempertimbangkan urutan kata, dan
kekuatan kat atau daya magis (Waluyo 1987 : 72). Pada puisi Tahajud
diksi yang digunakan adalah sebagai berikut.
Dunia buruk menjadi onggokan-onggokan sampah. Dalam baris ini kita mendapati kata
onggokan-onggokan sampah. Penyair memilih kata onggokan sampah bukan tumpukan
sampah, dikarenakan ada daya sugesti yang diinginkan oleh penyair bahwa kesenangan
di dunia adalah sesuatu yang kotor (dilambangkan dengan sampah) dan tidak seberapa (dilambangkan dengan kata onggokan), jadi dengan
diksi ini penyair mencoba menggambarkan bahwa dunia adalah sesuatu yang hina
dan tidak seberapa.
Sinar bulan yang membusuk. Penyair memilih kata membusuk tidak
dengan kata meredup. Padahal seharusnya sinar itu padanan yang tepat
adalah terang, redup, dan gelap, bukan busuk dan segar. Namun rupaya mungkin
ada yang diingkan oleh penyair dengan kata busuk tersebut, sebab bukan bulan
dalam artian bulan sebagai satelit bagi bumi, namun bulan dalam arti kias yang
mungkin dimaksud oleh penyair adalah potensi keimanan dia yang sedang turun,
karena cahaya keimanan ibarat rembulan yang menerangi hati manusia.
Kemabukanku yang khusyuk. Ada narasi yang aneh di sini, yaitu
kemabukan dan kehusyukan. Padahal dalam keadaan kehidupan yang normal orang
yang mabuk tidak mungkin untuk bisa khusyuk, jangankan untuk bisa konsentrasi,
pikirannya pun sedang tidak “waras”, namun Kang Acep dalam puisinya ini
menyandingkan kata mabuk dan khusyuk secara berdampingan, keanehan yang ada disini
adalah sesuatu yang disengaja karena dalam diksi kadang terjadi penyimpangan
secara semantis. Waluyo (1987 : 68) mengatakan bahwa penyimpangan semantis itu
terjadi karena “ Makna dalam puisi tidak menunjuk pada satu makna, namun
menunjuk pda makna ganda.” Jadi yang dimaksud “mabuk” dalam baris ini
adalah istilah Sufistik yang
biasanya untuk melambangkan suatu keadaan dimana seorang hamba sudah masuk Maqom
Fana yang mana dia tidak melihat kecuali Hakikat, yaitu sang maha pencipta. Akhirnya dia sudah
tidak peduli dengan keadaan sekitar layaknya orang mabuk.
b. Pengimajian
Pengimajian dapat diartikan sebagai “Kata atau
susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti
penglihatan, pendengaran, dan perasaan.” Waluyo (1987 : 78).
Dalam puisi Tahajud (2) ini ada
beberapa imaji yang penulis rasakan adalah imaji perasaan (imaji taktil) hampir
di semua baris yang dituliskan Kang Acep, karena puisi ini banyak mengandung
bahasa “mistis” karena puisi ini bersifat sufistik, sedangkan dalam dunia Islam
sufisme itu ibarat dunia “mistis” karena berbicara tentang sebuah hakikat, dan
melepaskan semua bentuk fisik. Kesengan dan kesedihan yang hadir pun adalah
hasil dari perjalanan jiwa dan kontemplasi dari seorang Sufi, walaupun kadang
kesadaran mistisme itu berawal dari perjalanan fisik seperti Ibrahim ibn Adham,
Hasan Al Basri, dan Malik Ibn Dinar.
Kembali ke puisi di atas, contoh Imaji
perasaan yang dihadirkan oleh penyair adalah sebagai berikut
Aku memasuki terowongan panjang,, Menghimpun segenap
kegelapan dalam dadaku. Dari dua baris ini kita bisa merasakan aura sufisme yang
kental, dalam bahasa Sufisme kalimat Memasuki terowongan yang panjang
biasa disebut proses “suluk” yang
berarti pencarian. Pencarian akan jati diri, pencarian akan hakikat hidup, dan
pencarian akan eksistensi Tuhan dalam diri hamba. Tentu proses pencarian ini
tidak bisa kita lihat ataupun kita dengar, namun proses pencarian ini hanya
bisa dirasakan oleh seorang hamba dan hanya bisa dirasakan oleh hamba yang
sudah melewati proses suluk dan melewati maqom fana.
c. Kata Kongkret
Kata kongkret ini berkaitan erat dengan imaji,
artinya sebuah imaji yang seakan dilihat, didengar, dan diraskan oleh pembaca
itu dikonkretisasi dengan kata tersebut. Seperti pada poin di atas, imaji
perasaan yang disampaikan penyair lewat puisinya dapat dirasakan oleh kita
sebagai pembaca karena ada konkretisasi berupa kata terowongan, panjang,
kegelapan dalam dada.
d. Majas
Waluyo (1987 : 83) “Majas adalah bahasa yang
digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara tidak biasa.” Dengan
majas akan menimbulkan makna yang prismatis, artinya satu kata akan
menghasilkan banyak makna.
Dalam puisi Tahajud (2) ini penulis lebih
banyak menemukan majas dalam bentuk lambang daripada bahasa kias. Sebagai
contoh :
Bulan yang membusuk, ini melambangkan dari cahaya keimanan yang
berkurang seiring dengan godaan dari dunia.
Aku terpejam ... Memasuki kekosongan yang nikmat. Dua baris
ini melambangkan dari sebuah perjalanan sufistik, yang melambangkan bahwa hati
yang sudah dimasuki oleh Nama Tuhan, maka hati tersebut ibarat sebuah tempat
yang kosong dari keinginan-keinginan yang bersifat duniawi.
e. Versifikasi
Versifikasi ini berkaitan dengan permainan
bunyi yang ada dalam sebuah puisi. Orkestrasi dari permainan kata dalam sebuah
puisi tidak hanya menghasilkan sebuah karya yang dalam secara makna, namun juga
indah dari segi bahasa yang dipergunakan.
Dalam puisi Tahajud (2) ada permainan bunyi
yang digunakan penyair berupa rima atau persamaan bunyi akhir.
Diantara sinar bulan yang membusuk
Atau ketika kuhamili sunyi di sudut malam
Hingga lahir seratus bayi
Dari kemabukanku yang khusyuk
Ada
permainan bunyi yang dipakai oelh penyair disana yaitu persamaan bunyi akhir
yakni bunyi –uk- pada
kata membusuk dan Khusyuk
f. Tifografi
Tifografi atau tata wajah pada puisi ini tidak
ada yang aneh, walupun aturan puisi secara konvensional masih dipakai, yakni
adanya baris dan baitnamun tidak ada ikatan seperti dalam puisi lama seperti
syair dan pantun.
Struktur Batin
Tema
Berbicara tentang tema untuk puisi cukup sulit, karena
kita harus menganalisis secara mendalam dari berbagai aspek, mulai dari
lambang, majas, pengimajian dan lain-lain. Namun walaupun sulit bukan berarti
kita tidak mungkin mencari tema dari sebuah karya, hanya perlu analisis dan
pemahaman terhadap kode bahasa yang ada serta memperhatikan latar belakang
pengarang maka gambaran akan tema kita dapatkan.
Puisi Tahajud (2) jika kita analisis maka kita
akan mendapatkan beberapa petunjuk seperti bahasan pada diksi dan majas, maka
secara garis besar puisi ini dikategorikan sebagai puisi sufistik dengan tema
ketuhanan. Dikatakan bertema ketuhanan karena disini berbicara tentang
pengalamn religius dari seorang penyair.
Perasaaan
Perasaan atau feeling ini berkitan dengan
bagaimanasikap dari penyair terhadap pokok persoalan. (Waluyo 1987 :120) . Perasaan
yang timbul mungkin berupa benci, sedih, iba, gembira, gelisah dan lain sebagainya.
Perasaan yang penulis pahami dari karya Kang Acep ini
adalah bahwa ada semacam kegelisahan yang dialami oleh penyair akan kegamangan
dia dalam wujud keimanan dia yang digambarkan sebagai bulan yang membusuk,
namun di bait kedua kita mendapati bahwa penyair seakan mendapatkan pencerahan
secara spiritual dari perjalanan hidupnya, ini bisa kita rasakan pada dua
baris menghimpun segala kegelapan
dalam dadaku... untuk kuledakan menjadi cahaya. Dan pada bait ketiga kita
merasakan bahwa oenyair benar-benar sudah mendapati pencerahan dari perjalanan
spiritualnya,, ini diuangkapkan pada baris Dan kubakar pakaianku yang
lusuh..... Lihatlah, kini aku telanjang. Pakaian lusuh adalah simbol dari
sesuatu yang usang, jiwa yang lama ditinggalkan. Sedangkan kata Telanjang
menyimbolkan dari sebuah kejujuran tanpa ada satu pun yang disembunyikan.
Telanjang dapat diartikan sebagai sesuatu yang penyerahan total kepada Tuhan,
karena merasa bahwa dirinya sudah tidak bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Nada dan Suasana
Ada dua hal yang menjadi poin disini, yaitu nada dan
suasana. Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca sedangkan suasana adalah
keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi, atau akibat psikologis yang timbul
pada pembaca (Waluyo, 1987 : 125). Nada yang terkandung dalam puisi ini adalah
bersifat religius, karena seperti yang diungkapkan penulis di atas bahwa puisi
ini bertema tentang religius dan bersifat sufistik. Sedangkan suasana yang
dirasakan pembaca dari membaca puisi adalah suasana khusyuk yang bergitu
mendalam, dengan mengikuti proses pencarian Tuhan dan diri dari penyair.
Amanat
Amanat yang ingin disampaikan oleh penyair dari puisi ini
adalah jangan berhenti untuk mencari Tuhan, karena Tuhan ada di diri manusia
dan carilah ketenangan bersama Tuhan karena dengan mengenal Tuhan maka dunia
dan segala isinya menjadi sesuatu yang fana dan tidak berarti.
Membedah puisi Tahajud (2) dengan
metode Semiotika
Prosedur pendekatan Semiotik
Banyak ahli yang mengemukakan tentang prosedur atau
langkah kerja yang dapat dilaksanakan delam meneliti karya sastra dengan
mengacu pada teori semiotik. Rolan Barthes sebagai tokoh semiotik dari prancis,
mengajukan sebuah teori tentang penganalisisan karya sastra dengan menggunakan
pendekatan semiotik ini. Dia menganalisis karya sastra dengan pendekatan
semiotik dengan menggunakan lima sistem kode bahasa.
Prosedur kerja teori Bhartes ini sebagai mana yang
dikemukakan oleh Suwondo (2003:87), adalah dalam memahami makna teks sastra,
Bharte pertama-tama membedah teks baris demi baris. Baris demi baris itu
dikonsentrasikan menjadi satuan-satuan makna sendiri. Setelah satuan makna
diperoleh, Bhartes kemudian mencoba mengklasifikasikan dan merangkum ke dalam
lima sistem kode yang memperhatikan setiap aspek signifikan. Kode-kode itu
mencakup aspek-aspek sintagmatik dan semantik.
Menurut Bhartes, dalam Djojosuroto (2004:109) ada lima
kode yang digunakan (1) kode teka-teki (the hermenetic code), (2) kode
konotatif (the code of semes or signifiers), (3) kode simbolis (the
simbolic code), (4) kode aksian (the proairetic code), (5) kode
budaya (the cultural or refernce code).
Kode Hermeneutik berkisar pada harapan pembca
mendapatkan nilai kebenaran terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam
karya saatra. Kode ini mambangkitkan hasrat dan kemauan untuk menemukan jawaban
atas pertanyaan yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Misalnya ambiguitas,
kata-kata kuno (arkaik), metafor, dan lambang-lambang lain (Djojosuroto, 2004
:109)
Kata-kata kuno, metafor, dan lambang termasuk ke dalam
konvensi tambahan bahasa sastra yang diantaranya bahasa kias. Untuk mendapat
pemahaman yang lebih mendalam dalam mencari konvensi tambahan bahasa sastra
yang merupakan teka-teki dan merupakan bagian dari harapan pembaca. Penulis
pendapat Riffaterre dalam Pradopo (1987) sepertiyang telah dikemukakan di atas,
bahwa terdapat ketidaklangsungan puisi sebagai akibat adanya konvensi tambahan
bahasasastra. Konvensi tambahan ini ada tiga hal :
Pergantian arti (displacing)
Ini terjadi apabila suatu arti kata (kiasan) berarti yang
lain (tidak menurut arti sesungguhnya).
(Pradopo, 1987 : 212). Pada umumnya kata-kata kiasan mengganti arti
sesuatu yang lain, libih metafora dan metonomi
Penyimpangan arti (distorsing),
Menurut Riffaterre dalam Pradopo (1987 :213) hal in
terjadi apabila dalam sajak (puisi) ada ambiguitas, kontradiksi, ataupun nonsense
Penciptaan arti (creating of meaning).
Ini terjadi apabila ruang teks (spasi) berlaku sebagai
prinsi pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatbahsaan
yang sesunguhnya secara linguistik tidak ada artinya,misalnya simitri, rima,
enjabement, atau ekuivalensi-ekuivalensi makna (semantik)
Kode konotatif berkenaan dengan tema-tema yang
dapat disusun lewat proses pembacaan teks. Jika di dalam teks dijumpai konotasi
kata, frase, atau bahkan kalimat tertentu, semua itu dapat dikelompokkan ke
dalam konotasi kata, frase, dan kalimat yang mirip (Suwondo, 2003 :80)
Kode simbolis adalah dunia lambang, yaitu dunia
personifikasi manusia dalam menghayati arti hidup dan kehidupan. Simbol
merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling khas dan bersifat struktural.
Pengenalan simbol dilakukan melalui kelompok-kelompok bentuk yang teratur,
mengulangi bermacam kode dan maksud teks sastra (Djojosuroto, 2004 : 109)
Kode aksian kode ini merupakan perlengkapan utama
teks. Setiap aksi atau tindakan dapat disitematiskan (codifiction).
Dalam hal ini, tindakan adalah sintagmatik, berangkat dari satu titik ke titik
yang lain. Tindakan-tindakan tersebut saling berhubungan walaupun saling
tumpang tindih (Suwondo, 2003: 78)
Kode budaya, hal ini berkaitan dengan berbagai
sistem pengetahuan atau sistem nilai yang tersirat dalam teks, misalnya adanya
bahasa atau kata-kata mutiar, benda-benda yang telah dikenal sebagai benda
budaya, steriotip pemahaman manusia, dan sejenisnya. Jadi kode ini merupakan acuan atau referensi teks (Suwondo,
2003 : 80)
Analisis Puisi Tahajud (2)
Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan membedah
teks baris demi baris. Cara yang dilakukan penulis coba lakukan untuk membedah
teks dengan cara memparafrasekan puisi yang dianalisis, sehingga tampak puisi
teresebut seakan sebuah teks narasi. Dengan perkataan lain penulis mencoba
membuat penafsiran dari spasi yang tertinggal dari sang penyair.
Tahajud (2)
Aku tak(pernah) tahu kapan dunia (tempat) (ke) buruk (an)
ini akan berubah
Menjadi onggokan-onggokan sampah
Mungkin (terwujud) (pada) saat kukumpulkan pecahan-pecahan
(percik) api
Di antara (cahaya) sinar bulan yang membusuk
Atau (mungkin) ketika kuhamili sunyi di sudut (kesunyian)
malam
Hingga lahir seratus bayi
Dari kemabukanku yang khusyuk
Aku memasuki terowongan (kefanaan) (yang) panjang
Menghimpun segenap kegelapan (jalan) dalam dadaku
Untuk kuledakan menjadi cahaya (tuhan)
Tanganku (tengadah) (sementara) (tubuhku) mengembang
seperti burung raksasa
Yang mencakari mataku sendiri
Lalu (aku) tertawa pada dunia (fana) yang kutinggalkan
(Mata) Aku terpejam
Memasuki kekosongan (jiwa) yang nikmat
Kupungut kepingan-kepingan galaksi itu
Dan kubakar pakaianku yang lusuh
(Dan) Lihatlah, kini aku telanjang
Dengan dada yang terbongkar
Merangkak terus menghampiri pagi bersujud tanpa henti
(1990)
(1) Kode Hermeneutik
Teka-teki yang coba penulis pecahkan dengan menganalisis
kode hermeneutik yang terdapat dalam puisi ini dimulai dari menganalisis judul
puisi yakni tahajud. Tahajud ini mempunyai arti soalat sunat yang dilakukan
tengah malam, seusai tidur. Tahajud pundalam islam termasuk ke dalam salat
sunat yang derajatnya cukup tinggi sehingga Allah menganjurkannya langsung di
dalam Alquran. Kemudian tahajud pun dijadikan oleh Allah sebagai salah satu
sarana untuk menaikan derajatnya di dunia dan di akhirat. Berdsarkan makna yang
telah diurai di atas, penulis menemukan penggantian makna dari tahajud menjadi
sebuah keinginan yang kuat dari penyair untuk mendapatkan keutamaan dari Tuhan,
yakni perubahan dari semua keburukan dan kejelekan dunia.
Aku tidak tahu kapan dunia buruk ini akan berakhir. Buruk adalah sebuah konsp penilaian yang
diberikan oleh manusia terhadap segala sesuatu yang dianggap tidak layak dan
tidak pantas.. Pengagantian arti dari fasa dunia buruk ialah dunia tempat
segala macam keburukan dan kerusakan, dimana mahluknya selalu ingin menguasai
yang lainnya sampai melakukan tindakan-tindakan yang kadang merusak dan
menghancurkan.
Kukumpulkan pecahan pecahan api/Diantara sinar bulan
yang membusuk. Pecahan artinya terbelah menjadi serpihan-serpihan. Pecahan api di sini
merupakan konkretiasai dari berkas cahaya yang timbul dari sinar api.
Pembentukan konkretisasi sianr atau berkas api dengan menggunakan kata pecahan,
tidak lepas dari latar belakang penyair yang kuliah di bidang seni lukis. Bulan
merupakan satelit satu-satunya yang dimiliki oleh bumi dan merupakan simbol
keindahan. Sedangkan makna membusuk ialah sebuah proses fermentasi alamiah yang
dialami oleh makanan ataupun buah-buahan yang tidak memiliki pengawet. Maksud
dari sinar bulan yang membusuk ini bersgeser menjadi sebuah simbol dari
kekuatan iman penyair yang sedang berada pada titik rendah. Bulan disimbolkan
sebagai iman yang menerangi dan bumi adalah hati yamng diterangi oleh cahaya
iman itu.
Atau ketika kuhamili sunyi di sudut malam/ Hingga lahir seratus
bayi/ dari kemabukanku yang khusyuk.Menghamili ialah membuahi. Sedangkan penggantian arti
yang terdapat dalam kata menghamili ialah mengisi malam yang sunyi dengan
sebuah pengabdian (ibadah) yang sangat intim. Sedangkan kemabukan, ialah
suasana dalam keadaan sedang tidak dalam kesadaran dirinya sendiri. Mabuk di
sini bukanlah dalam artian sebenarnya, namun mabuk di sini merupakan sebuah
perlambangan dari kelarutan diri manusia dalam dzat Tuhan (Maqom Fana)
Aku memasuki terowongan panjang / menghimpun segenap
kegelapan dalam dadaku/ Untuk kuledakkan menjadi cahaya. Terowongan penjang di sini ialah sebuah
perjalanan spiritual dari penyair. Terowongan berpindah arti menjadi sebuah
jalan yang harus dilalui oleh seorang pejalan. Kegelapan simbolisasi dari hati
yang kelam yang dibimbing oleh cahaya ilahi menuju kebenaran, sesuai narasi Kuledakkan
menjadi cahaya.
Aku terpejam / memasuki kkosongan yang nikmat. Kekosongan ialah situasi yang tidak ada
apa-apa, sementara nikmat ialah sebuah perasaan puas. Dari kedua arti ini
menemukan pergantian arti bahwa yang dimaksud di sini adalah sebuah konsep
sufistik yang disebut Takholli, yakni tidak bertahtanya dunia dalam diri
manusia. Dengan perkataan lain bahwa dalam dirinya sudah tidak ada urusan
duniawi.
Kupungut kepingan galaksi itu / Dan kubakar pakaianku
yang lusuh. Galaksi adalah kumpulan dari jutaan planet dan bintang. Galaksi mengalami
pergesaran arti dari arti sebenarnya, jadi kupungut kepingan-kepingan galaksi
adalah kongkretisasi dari bersatunya lagi pecahan jiwa yang sudah kehilangan
kekhusukannya kepada Tuhan, hal ini diperjelas dengan baris terakhir kubakar
pakaianku yang lusuh. Jelas di
sini bahwa penyair mencoba mengutuhkan
kembali jiwanya untuk mencapai kekhusyuan dan meninggalkan keburukan di masa
lalu dengan dibakarnya pakain yang sudah lusuh / usang.
Merangkak terus menghampiri pagi. Merangkak merupakan simbolisasi dari
ketidakberdayaan si aku dalam mencapai hakikat dari Tuhan, namun tidak ada
sedikit pun putus asa dari mengharap rahmat Tuhan untuk medapatkan sebuah
perbaikan dalam kehidupan.
(2) Kode konotatif
Kode-kode konotatif yang terdapat dalam puisi ini sebagai
berikut.
Dunia buruk, bulan yang busuk, pakaian yang lusuh. Ketiga kode konotatif ini menyaran pada tema
tentang penyesalan penyair terhadap sikap yang dilakukannya di masa lalu, baik
itu sikap lahir maupun sikap batinnya.
Kemabukan yang khusyuk, kekosongan yang nikmat,merangkak
menghampiri pagi. Kode konotatif ini menyran pada konsep penyerahan diri yang total kepad
sang maha pencipta sehingga timbul sebuah konsep sufisme yang disebut tajalli
yang mana Tuhan sudah berada dalam diri si hamba.
(3) Kode simbolis
Berdasarkan kedua kelompok kode konotatif ini, penulis
mendapatkan tema secaara menyeluruh yakni jangan pernah lelah untuk mencar
Tuhan, karena Tuhan ada pada hati setiap manusia. Kenali diri sendiri maka
niscaya akan kau kenali Tuhanmu.
Daftar Pustaka
Djojosuroto, Kinayati. 2004. Puisi Pendekatan dan
Pembelajran. Jakarta:
Nusantara
Djoko Pradopo, Rachmat. 1987. Pengkajian Prosa Fiksi
Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta :
Gajah Mada University Press.
Sudjiman, Panuti dan Van Zoest. 1991. Serba-Serbi
Semiotika. Jakarta : Gramedia
Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra Beberapa Alternatif
. Yogyakarta : Hanindita Graha Widya.
Tjahjono, Tengsoe. 1987. Sastra Indonesia Pengantar
Teori dan Apresiasi. Flores : Nusa Indah.
Waluyo , Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi.
Jakarta : Erlangga.
DUA PISAU BEDAH UNTUK KANG ACEP ZAM-ZAM
Posted by Editor
on June 28, 2019

DUA PISAU BEDAH UNTUK KANG ACEP ZAM-ZAM
Oleh: Muhammad Helmi Aminudin
*Guru di MTsN 1 Tasikmalaya
TAHAJUD (2
Total Pageviews
Blog Archive
Contact Form
Link List
Featured Post
RIYA’ DAN NIFAQ
RIYA’ DAN NIFAQ Manusia sebagai makhluk Tuhan telah dianugerahi berbagai nikmat sehingga hal itu mengharuskan manusia untuk bersyukur kepad...
Pages
Search This Blog
Powered by Blogger.